WAKTU SERVER : Rabu, 29 Maret 2017 02:50
0 Share
0 0 0

Ini pengalaman Jacky Chan yang bikin jutaan penggemarnya menitikkan air mata

Life Style
5 bulan yang lalu - 01-11-2016

Ini pengalaman Jacky Chan yang bikin jutaan penggemarnya menitikkan air mata
Hingga hari ini, Jackie Chan tidak hanya sekadar superstar kungfu, namun ia juga seorang bintang dalam bidang kemanusiaan. Pernah ada yang bertanya kepada Jackie, Selebritis melakukan kegiatan kemanusiaan apa bukan demi tebar pesona, apakah ada kebohongan di baliknya? / Ist

MAKAKSSARTERKINI.COM - Hingga hari ini, Jackie Chan tidak hanya sekadar superstar kungfu, namun ia juga seorang bintang dalam bidang kemanusiaan. Pernah ada yang bertanya kepada Jackie, selebritis melakukan kegiatan kemanusiaan apa bukan demi tebar pesona, apakah ada kebohongan di baliknya?

Pertanyaan yang sangat menusuk, sehingga Jackie pun menjawabnya dengan lugas. “Ada kebohongan! Saya memulainya dari kebohongan,”  tegasnya.

Sebuah kejujuran yang mencengangkan setiap orang. Ketika baru mulai memasuki dunia perfilman, Jackie adalah pemeran pengganti dalam film laga kungfu. Risiko tinggi tetapi honor kecil, pekerjaan yang tak berarti di mata orang lain.

Tiba-tiba ia menjadi populer dalam sekejap, honornya dari semula tiga ribu yuan meningkat drastis menjadi 4,8 juta yuan. “Menjadi hartawan dalam semalam,” tutur Jackie.

Kebahagiaan itu datang begitu cepat, waktu itu ia baru berumur sekitar 20 tahun. Asalnya miskin dan tidak punya apa-apa, tiba-tiba memiliki banyak uang sehingga ia tak tahu bagaimana harus menggunakannya.

Saat itu, ia sekaligus membeli tujuh arloji kelas dunia dengan merek berbeda. Menurut pemeran Drunken Master ini, satu minggu ada tujuh hari jadi setiap hari ganti arloji.

Kemudian, Jacky setiap hari mengundang teman-temannya untuk berpesta dan bernyanyi (karaoke) bersama, berusaha menunjukkan pada semua orang ia sekarang kaya raya.

Seiring popularitasnya yang makin meningkat, ada yang mengundangnya ikut berpartisipasi dalam kegiatan kemanusiaan.

Kala itu, Jackie menolak. “Saya tidak ikut, tidak ada waktu,” ujarnya.

Memang benar ia tidak punya waktu, siang harus syuting film, malam hari minum bir dan disko atau karaoke. Ia sibuknya bukan main, tak waktu untuk urusan lain.

Orang itu berkata, telah atur semuanya, Jacky tidak perlu melakukan apa-apa, cukup datang saja. Itu pun cuma satu hari. Lagi pula hal ini akan sangat membantu image maupun promosi filmnya.

Akhirnya Jackie setuju, meskipun dengan terpaksa. Kegiatan hari itu adalah mengunjungi panti asuhan anak-anak disabilitas. Melihat Jackie Chan muncul di hadapan mereka, anak-anak difabel itu senang sekali, mereka menyebut namanya keras-keras.

Asisten memberitahu anak-anak itu, Chen Lung Dage (Big Brother Jackie Chan) sangat sibuk, tetapi setiap harinya selalu merindukan kalian. “Ia kemarin malam tidak tidur, hari ini menyempatkan diri menjenguk kalian,” dusta asistennya.

Pujian begitu tinggi yang diberikan kepadanya membuat Jackie merasa serba salah. Ia sebenarnya tidak ingin datang, kemarin malam tidak tidur karena begadang di diskotek.

“Chen Lung Dage juga membawakan hadiah bagi kalian,” imbuh asistennya lagi.

Anak-anak itu spontan bersorak-sorai dan meloncat-loncat kegirangan. Sebaliknya, Jackie justru merasa bagai orang linglung. Semua itu sudah diatur pihak penyelenggara, sama sekali tidak pernah terpikir untuk membawa hadiah, bahkan ia juga tidak tahu isi kotak-kotak hadiah itu.

Setiap anak mendapat hadiah, lalu satu per satu mengucapkan “terima kasih” kepada Jacky. Melihat wajah-wajah mungil dan polos yang tertawa bahagia, ia tiba-tiba merasa malu, tetapi tak ada tempat baginya untuk bersembunyi.

Ia jelas-jelas telah membohongi anak-anak itu, tetapi yang didapatkannya adalah balasan yang begitu tulus. Ia tidak berani mengutarakan perasaannya itu, yang bisa dilakukannya hanyalah meneruskan permainan sandiwara tersebut.

Jacky menerima ucapan terima kasih anak-anak itu dengan berpura-pura semuanya biasa-biasa saja. “Bisa Anda bayangkan, saya waktu itu begitu jahatnya!” demikian Jackie Chan menganalisis dirinya sendiri beberapa tahun kemudian.

Waktu itu, saat berpisah, seorang anak menarik tangannya dan bertanya. “Apakah Chen Lung Dage, tahun depan datang akan datang lagi,” ujar anak itu.

Jackie menjawab, ia akan datang. Tahun berikutnya, ia membawa hadiah yang telah dipersiapkan dengan saksama, datang sesuai janjinya sehingga utang batinnya selama setahun akhirnya terbayar juga.

Saat itu, Jacky berkesimpulan ada yang pertama kali, maka akan ada yang kedua kali. Demikianlah mantan pacar mendiang Teresa Teng ini menapaki jalan aksi kemanusiaan.

Pasalnya, setiap ia menggelar aksi sosial, setiap kali ia memperoleh pengalaman-pengalaman baru. Ketika untuk pertama kalinya ikut dalam aksi sosial yang sebenarnya tidak ingin dihadirinya, ia mengira kegiatan tersebut adalah ajang tebar pesona yang akan berakhir dengan cepat, namun ternyata malah menjadi bidang yang digelutinya seumur hidup.

Peristiwa ini, kalau tidak diutarakannya, selamanya tidak akan ada yang tahu. Begitu diutarakan, rasa hormat dan kagum kita terhadapnya semakin bertambah. Memang, ada kalanya orang tersesat ke jalan yang salah namun ada juga yang “tersesat” ke jalan kebajikan.

Melakukan satu perbuatan bajik, tidak selalu harus didorong keinginan yang luhur, meskipun itu hanya ajang tebar pesona tetapi juga adalah tebar pesona kebajikan.

Setiap usaha yang mulia selalu diawali dari sesuatu yang tak berarti, namun asal seseorang melakukannya maka itu jauh lebih mulia dibanding para penonton yang berucap sinis tetapi tak berbuat apa-apa.

Jackie mengungkapkan, selama ia melakukan aksi kemanusiaan, beberapa orang pelan-pelan juga mengajari ia bagaimana harus berlaku yang benar. Menurutnya, orang baik bukanlah orang suci, namun ia juga ingin selalu mengembangkan diri, ia butuh proses untuk menyempurnakan diri.

Selalu bermurah hati dan memberikan dorongan bagi mereka (para orang baik yang bukan orang suci), kurangi celaan, dengan demikian orang baik itu makin lama akan makin baik dan banyak.

Memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjadi orang baik, sebetulnya adalah suatu perbuatan yang memiliki jasa tak terhingga.

Editor : Effendy Wongso
Publisher : Effendy Wongso
0 Ulasan
Anda harus Login terlebih dahulu

Subscribe !!!

Jangan sampai ketinggalan berita terkini,
langganan newsletter kami sekarang!

example@mail.com
EVENT TERKINI