WAKTU SERVER : Rabu, 29 Maret 2017 02:44
0 Share
0 0 0

Isu rush money tak pengaruhi iklim perbankan di Sulsel  

Ekonomi
4 bulan yang lalu - 24-11-2016

Isu rush money  tak pengaruhi iklim perbankan di Sulsel  
Belum lama ini, isu tentang penarikan uang secara besar-besaran atau rush money ramai beredar di kalangan masyarakat. Masifnya isu tersebut semakin santer disebarkan melalui media sosial (medsos), seperti pesan Blackberry Messanger (BBM), WhatsApp (WA), Facebook, dan sejumlah medsos lainnya. / Ist

MAKASSAR - Belum lama ini, isu tentang penarikan uang secara besar-besaran atau rush money ramai beredar di kalangan masyarakat. Masifnya isu tersebut semakin santer disebarkan melalui media sosial (medsos), seperti pesan Blackberry Messanger (BBM), WhatsApp (WA), Facebook, dan sejumlah medsos lainnya.

Melalui pesan berantai tersebut, masyarakat diajak untuk menarik uang di bank secara serentak pada 25 November 2016. Belakangan, isu terindikasi berasal dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan tujuan ingin memberikan efek negatif pada perbankan yang bisa mempengaruhi ekonomi.

Di Makassar sendiri, isu tersebut tak kalah hebohnya, masyarakat pun semakin diresahkan dengan sempatnya beredar ajakan "ayo tarik uang di bank". Berdasarkan pantuan Makassar Terkini, bentuk ajakan tersebut sempat ramai di BBM.

Menanggapi hal itu, Kepala Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Sulsel Wiwiek Sisto Widayat menyatakan, isu tersebut sama sekali tidak benar adanya. "Mengenai isu rush money, itu hanya dibuat orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk membuat kekacuan," katanya kepada Makassar Terkini beberapa waktu lalu. 

Ia menjelaskan, rush perbankan atau lebih dikenal dengan sebutan bank run memang pernah terjadi pada 1996-1997. "Saat itu, memang krisis moneter dan sedang terjadi krisis keuangan," tambah Wiwiek.

Krisis moneter dan keuangan saat itu memang membuat kepercayaan masyarakat terhadap perbankan menurun. Sehingga, masyarakat lebih senang dan merasa lebih aman jika memegang uang tunai dan menabung bukan di bank. "Tetapi itu hanya terjadi dulu," bebernya.

Oleh karena itu, Wiwiek meyakinkan kondisi perbankan di wilayah Sulsel saat ini dalam kondisi yang kuat dan aman. Dalam hal ini, likuiditas perbankan dalam kondisi yang lebih dari cukup untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakat terkait uang. "Jadi tidak ada alasan yang mendasari kegiatan rush money itu," tegasnya.

Terlebih sejauh ini, penarikan uang yang dilakukan bank di Sulsel masih wajar, tidak ada gejolak dan kenaikan. Ia juga menyebutkan, BI justru siap terjun untuk menambah dan memastikan likuiditas bank tetap aman. 

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Unhas Anas Anwar Makkatutu mengatakan, isu rush money merupakan himbauan yang tidak rasional. "Rasanya konyol dan dampaknya kembali ke masyarakat, utamanya masyarakat miskin," katanya ketika dikonfirmasi Makassar Terkini.

Anas mengungkapkan, jika dana masyarakat di bank ditarik berarti bank akan mengalami kesulitan untuk lempar kredit dan investasi. Hal itu tentu akan memberikan dampak besar bagi perekonomian di Indonesia termasuk di Sulsel. Sebab diketahui, perbankan merupakan salah satu komponen sistem keuangan pada sebuah negara. Jika tidak stabil, maka akan membuat efek negatif dalam berbagai hal, misalnya semakin berkurangnya lapangan pekerjaan, tidak adanya pendapatan, dan kondisi masyarakat yang semakin miskin.

"Jika itu terjadi, maka ekonomi yang kita bangun selama ini akan ambruk dan akan dimulai lagi dari nol," paparnya.

Adanya isu rush money ini juga membuat masyarakat minim kepercayaan pada perbankan. Ketika masyarakat tidak mau lagi menyimpan uang di bank, maka bank akan menaikkan bunga untuk merayu masyarakat. "Kalau bank beli mahal dananya, maka pasti bunga kredit juga mahal. Investasi pun akan mandek," terangnya.

Selama isu itu tidak terbukti, maka kondisi keuangan khususnya perbankan akan tetap berjalan aman. Namun, jika kemungkinan terburuk rush money tetap terjadi maka bank akan menagalami kolaps, dan dana masyarakat tidak tidak ada lagi di bank.

Oleh karena itu, dengan maraknya isu rush money itu, Anas berharap masyarakat bisa berpikir lebih rasional dan mementingkan kepentingan negara sebelum percaya pada isu tersebut.

"Bayangkan, kalau dana masyarakat di bank semua ditarik, mau disimpan di mana. Kalau di rumah itu akan berdampak makin tingginya tingkat kriminalitas," tutupnya. (A)

Andini Ristyaningrum

Editor : Effendy Wongso
Publisher : Effendy Wongso
0 Ulasan
Anda harus Login terlebih dahulu

Subscribe !!!

Jangan sampai ketinggalan berita terkini,
langganan newsletter kami sekarang!

example@mail.com
EVENT TERKINI