WAKTU SERVER : Kamis, 19 Januari 2017 07:13
0 Share
0 0 0

Bank Sampah, solusi alternatif mengelola sampah secara mandiri

News
7 hari yang lalu - 11-01-2017

Bank Sampah, solusi alternatif mengelola sampah secara mandiri
Bank Sampah Makassar/Debra Ayudhistira

MAKASSARTERKINI.com - Saat ini, bank sampah dapat menjadi metode alternatif yang dapat dilakukan secara mandiri untuk mengelola sampah yang ada di sekitar kita.

Umumnya, sampah yang diproduksi setiap rumah akan langsung dibuang ke tempat pembuangan sampah yang tersedia di tiap rumah.

Dari sini, biasanya mobil pengangkut sampah akan membawa tumpukan sampah ke tempat pembuangan akhir yang berlokasi di Antang.

Sayangnya, tidak semua rumah menyediakan tempat pembuangan sampah yang layak.

Seringkali, tumpukan sampah yang dihasilkan tiap rumah di buang di tempat umum yang bukan tempat sampah. Kondisi seperti inilah yang terjadi di lingkungan tempat tinggal Eka Wulandari.

Di sekitar rumahnya yang berlokasi di Perumahan Citra Daya Permai, kecamatan Biringknaya Makassar, menjadi tempat dari berpuluh warga membuang sampah.

Kondisi kurang nyaman seperti bau busuk dari sampah hingga banyaknya lalat di sekitar tempat tinggalnya dirasakan Eka setiap hari. Mobil sampah yang biasa mengangkut sampah tidak serta-merta menyelesaikan persoalan persampahan ini.

Berangkat dari situasi ini, Eka mulai merintis pembuatan bank sampah di lingkungan tempat tinggalnya. Secara mandiri, Eka mulai memisahkan sampah yang ia produksi sendiri.

Sampah anorganik yang bisa didaur ulang, sampah organik (sampah dapur) yang bisa terurai di alam, dan sampah anorganik yang tidak dapat didaur ulang. Sampah-sampah tersebut ia tempatkan pada wadah yang ia sediakan secara khusus.

Eka kemudian mengajak warga sekitar rumahnya untuk memanfaatkan bank sampah yang ia kelola. Warga diminta mengumpulkan sampah yang mereka produksi ke dalam 3 kategori seperti yang dilakukan Eka.

Sampah anorganik yang masih bisa didaur ulang semisal botol plastik, botol kaca, kaleng bekas, hingga kertas yang dikumpulkan warga akan Eka serahkan ke penimbang yang akan membeli sampah warga.

“Hasil penjualan sampah akan dikembalikan kepada warga sesuai dengan nilai sampah yang mereka kumpulkan,” tutur Eka.

Untuk sampah organik atau sampah dapur semisal batang sayur, tulang ikan, dan sisa makanan lainnya ia buat menjadi pupuk organik. Ia menempatkan sampah organik yang ia kumpulkan dari tetangga sekitarnya ke dalam sebuah wadah kedap udara.

Sampah ini kemudian diberi campuran bakteri serta karbon yang berasal dari serbuk kayu. Sampah ini disimpan selama satu bulan.

Setelah satu bulan, sampah ini akan berbentuk seperti tanah yang bisa langsung digunakan untuk bercocok tanam. “Warga pun bisa mengambil secara gratis pupuk ini untuk keperluan mereka,” tutur Eka

Sisanya, tutur Eka yakni sampah anorganik yang tidak dapat didaur ulang semisal popok bayi akan diserahkan mobil sampah yang datang mengangkut sampah. 

Eka mengharapkan, masyarakat bisa memanfaatkan bank sampah yang sedang ia kelola. “atau membuat bank sampah yang bisa mereka kelola sendiri di rumah,” tutupnya.

Debra Ayudhistira

Editor : Ihwan Fajar
Publisher : Ihwan Fajar
0 Ulasan
Anda harus Login terlebih dahulu

Subscribe !!!

Jangan sampai ketinggalan berita terkini,
langganan newsletter kami sekarang!

example@mail.com