Makassar Terkini

Switch to desktop Register Login

Kader Korupsi,Golkar-PKS Bakal Anjlok

Rate this item
(0 votes)

MAKASSAR – Partai Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) diprediksi segera menyusul Partai Demokrat yang elektabilitasnya anjlok akibat kadernya terjerat kasus korupsi.

Khusus Golkar, kasus terbaru yang dinilai bakal membuat elektabilitas partai ini anjlok yakni tertangkapnya Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) nonaktif Akil Mochtar. Apalagi, dugaan suap Akil ini ikut menyeret Gubernur Banten Ratu Atut Choisyah yang tidak lain pengurus DPP Golkar. Belum lagi isu dinasti politik yang kian deras menerpa Atut.

Sedangkan PKS, kasus mantan presiden partai Luthfi Hasan Ishaq (LHI) yang menggelinding di Pengadilan Tipikor, diyakini akan membuat partai ini makin kehilangan kepercayaan di masyarakat. Apalagi, seiring persidangan LHI, nama sejumlah petinggi partai pemenang keempat Pemilu 2009 di Sulsel ini, seperti Anis Matta dan Tamsil Linrung, kerap disebut- sebut ikut terlibat.

“Memang sulit bagi partai ketika kadernya terlibat korupsi. Dulu hanya Demokrat partai empat besar pemenang pemilu yang terseret kasus, tapi kini PKS dan Golkar juga masuk pusaran itu. Ini yang membuat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap parpol ini akan melorot,” ujar pengamat politik Unhas Adi Suryadi Culla kepada KORAN SINDOkemarin. Adi mengatakan, di saat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai makin kritis, bahkan akut, maka satu-satunya yang bisa menolongnya untuk selamat di Pemilu 2014 adalah kader yang direkrut.

“Ini ibarat perahu sudah retak. Yang bisa menyelamatkan parpol yang goncang itu kadernya secara individu. Jika kader atau caleg yang direkrut itu cukup dipercaya publik, masih ada harapan untuk bangkit,” ujar Ketua Jurusan Hubungan Internasional Unhas ini. Khusus untuk konteks Sulsel, meski Golkar dan PKS termasuk partai yang mengakar di daerah ini, namun tidak berarti gonjang-ganjing yang terjadi di pusat tidak berpengaruh ke daerah. Adi melihat konfigursi politik nasional bisa saja berpengaruh ke daerah.

“Di Sulsel pun partai ini bisa saja menurun. Tapi khusus Golkar, faktor lain seperti banyaknya kepala daerah yang menjadi ketua partai, saya kira itu bisa menjadi sumber daya politik yang membantu. Tapi tetap butuh kerja berat untuk memulihkan kepercayaan publik,” ujar dia. Kendati diprediksi menurun, namun elite Golkar dan PKS tetap yakin mampu meraih suara signifikan pada Pemilu 2014 mendatang. Presiden PKS Anis Matta tetap percaya diri mampu meraih target masuk tiga besar pemenang Pemilu 2014.

“Saya pribadi sempat cemas dengan hasil survei yang menempatkan PKS mengalami kemunduran tapi setelah melihat semangat para kader, keraguan saya sirna,” katanya saat berorasi pada konsolidasi pemenangan PKS dengan ratusan kader di Kota Bengkulu, kemarin. Konsolidasi dengan para kader dan calon anggota legislator tersebut menurutnya menjadi agenda terjadwal di mana hingga saat ini sudah dilaksanakan di 25 provinsi. “Ternyata hasil survei dengan kondisi lapangan bisa berbeda. Untuk itu target tiga besar pada Pemilu 2014 tidak akan berubah,” tegas politikus kelahiran Bone, Sulsel ini.

Dia mengakui berbagai kasus membelit sejumlah petinggi PKS. Namun seluruh kader dan pengurus partai harus bekerja lebih keras untuk memenangkan pemilu. Dalam orasi politiknya, Anis mengatakan kondisi PKS saat ini berada dalam lorong gelap. Namun, jika ingin melihat fajar, kata dia, seluruh kader dan caleg harus berani melewati kegelapan. “Begitu juga dengan sekelompok orang yang ingin menuju ke suatu pulau harus berani menentang badai dan gelombang,” ujarnya.

Terpisah, Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical), mengatakan, beberapa kasus korupsi yang menjerat kader Golkar tidak akan memengaruhi elektabilitas partai pada Pemilu 2014. “Ini buktinya, jumlah warga yang datang ke acara hari ini,” kata Ical saat menyampaikan orasi politik pada acara Jalan Santai Partai Golkar di Batam, Kepulauan Riau (Kepri), kemarin.

Menurut dia, Partai Golkar terus melakukan koordinasi internal untuk menguatkan partai menuju kemenangan di Pemilu 2014. Ical yakin perolehan suara partai yang dipimpinnya tetap tinggi termasuk di Kepri. Karena itu, dia menargetkan mampu merebut minimal dua kursi DPR dari Kepri. “Kami juga melakukan koordinasi internal kekinian dengan situasi politik saat ini,” katanya. Dihubungi terpisah, pengamat komunikasi politik dari Universitas Mercu Buwana (UMB) Heri Budianto menilai kedua partai tersebut sulit menaikkan citra di tengah derasnya kasus korupsi yang membelit kader mereka.

Khususnya kepada Golkar, kata dia, sangat berat untuk memenangkan Pemilu 2014. Hal itu bisa dilihat dari beberapa hal. Pertama, pencapresan Ical akan memengaruhi perolehan suara Golkar dalam Pileg 2014 mendatang. Selain itu, pencapresan Ical tidak mampu mengangkat elektabilitas Golkar. “Seperti kita ketahui bahwa pencapresan Ical lewat Golkar terus berlanjut walaupun di internalnya ada gejolak yang menginginkan evaluasi dan peninjauan ulang soal capres dalam rapimnas akan datang,” kata Heri.

Kedua, maraknya kasus korupsi yang melibatkan kader Golkar khususnya terkait politik dinasti. Masalah ini akan memengaruhi kepercayaan publik terhadap Golkar. “Memang pemilu masih sekitar 6-7 bulan lagi, apapun bisa terjadi. Saya melihat partai politik saat ini saling sandera dan cenderung saling serang dengan berbagai kasus yang menimpa masing-masing kader mereka,” ujarnya. Heri menambahkan, Golkar bisa memenangi pemilu jika terjadi sesuatu yang luar biasa yang merugikan PDIP.

Artinya jika PDIP diterpa badai politik maka kans Golkar akan terbuka. Mengenai peluang PKS, Heri menilai semakin berat. Menurut dia, sulit bagi PKS untuk masuk tiga besar dalam Pileg 2014. Ini bukan hanya tergambar dari kasus mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq dan kader PKS lainnya yang terus akan bergulir sampai beberapa bulan ke depan. “PKS sulit masuk tiga besar karena kepercayaan publik turun drastis akibat ulah mantan Presiden PKS LHI.

Apalagi sidang-sidang kasus impor daging sapi masih terus menampilkan kejutan-kejutan bagi publik, karena terkait dengan tokoh-tokoh lain yang berperan,” ujarnya. Dia melihat peradilan LHI itu justru merugikan PKS justru. Karena itu PKS harus kerja keras untuk mengangkat citra partai di mata publik.

“Bagi pemilih ideolog PKS, mereka tetap setia. Namun bagi simpatisan dan publik luas sangat sulit kembali ke PKS,” tandasnya. KORAN SINDO - rahmat sahid/ bakti m munir/a

Login to post comments

2013 © Makassar Terkini. All rights reserved.

Top Desktop version