A+ R A-

Ada Indikasi Pelanggaran HAM

MAKASSAR(SI) – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang melakukan investigasi terkait rentetan kerusuhan massal di Makassar,menemukan adanya indikasi pelanggaran HAM yang dilakukan oknum aparat kepolisian. Ketua Sub Komisi Komnas HAM Muh Ridha Saleh yang datang langsung ke Makassar menegaskan, dari hasil awal investigasinya, pihaknya menemukan adanya tindakan kekerasan oleh oknum Polri terhadap mahasiswa terkait kasus penyerangan Markas HMI Cabang Makassar di Jalan Botolempangan.

”Di sini ada penyerangan pertama dan kedua.Yang jelas ada unsur kekerasan yang dilakukan oleh oknum polisi yang mengindikasikan adanya pelanggaran HAM,” tegasnya saat ditemui di Markas HMI kemarin. Kekerasan tersebut, kata dia, merupakan hal yang tidak wajar dilakukan oleh aparat penegak hukum seperti Polri. Dia juga mendesak Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri dan Kapolda Sulselbar Irjen Pol Adang Rochjana harus bertanggungjawab dengan aksi kekerasan yang dilakukan oknum anggotanya itu.

”Kekerasan dan indikasi pelanggaran HAM ini masih akan kita bahas di sidang paripurna Komnas HAM.Yang pasti Kapolri dan Kapolda harus bertanggungjawab dengan segera menindak oknum anggotanya yang melakukan penyerangan,” kata Ridha Saleh. Dugaan pelanggaran HAM tersebut antara lainnya adanya teror yang dilakukan oknum polisi terhadap mahasiswa, kekerasan, perusakan Markas HMI, hingga masuk ke rumah-rumah warga untuk mengejar mahasiswa seperti pencuri.

Pihaknya juga mensinyalir adanya pembiaran yang dilakukan Polri terhadap kasus penyerangan masyarakat terhadap mahasiswa yang sementara menggelar aksi unjuk rasa.Apalagi, diperoleh informasi bahwa warga yang menyerang tersebut berada di sekitar polisi tanpa dilakukan pelarangan ataupun penangkapan. ”Ini yang sedang kami cari tahu. Sebab sudah beberapa kali terjadi seperti ini di Makassar.

Ada apa sebenarnya, ini yang kami belum tahu. Kenapa ada warga yang menyerang bersama polisi, tapi polisi sendiri tidak melakukan pelarangan, sehingga kami mengindikasikan adanya pembiaran dari Polri,”tandas dia. Selain menemui pengurus HMI Makassar,Komnas HAM rencananya juga akan menemui Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin dan Kapolda Sulselbar Irjen Pol Adang Rochjana untuk melihat duduk perkara yang sebenarnya terhadap kerusuhan di Kota Anging Mammiri.

Sementara itu,Ketua Perhimpunan Besar Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) Syamsuddin Radjab yang juga mengumpulkan fakta terkait rentetan bentrokan yang terjadi belum lama ini, juga menemukan adanya kekerasan serta pembiaran yang dilakukan oknum kepolisian. Menurut Syamsuddin, pihaknya sudah mengantongi indentitas oknum Polri yang melakukan berbagai macam praktik untuk mendesai agar masyarakat tertentu menyerang dan menghentikan aksi unjuk rasa yang digelar mahasiswa.

”Dari hasil investigasi, kami sudah mengantongi nama polisi dan preman yang dikasi duit kemudian diangkut menuju kampus untuk melakukan penyerangan. Sehingga muncul persepsi bahwa masyarakat yang menyerang kampus, tapi pada dasarnya orang-orang ini adalah suruhan polisi sendiri,” tuturnya kepada Seputar Indonesia.

Dia menyebutkan, Kapolda selalu mengatakan bahwa ini adalah kasus individu dan pernah juga mengatakan jika penyerangan ini tanpa komandonya dan ada gerakan yang ingin menurunkannya dari kursi jabatannya sekarang. Hal tersebut,kata Syamsuddin, berarti ada struktur lain yang melakukan provokasi penyerangan terhadap HMI dan mahasiswa yang menggelar unjuk rasa di kampusnya.

”Ada oknum di internal Polri yang bermain pada kasus kerusuhan Makassar,”tegasnya. Bahkan, kasus kerusuhan ini memiliki kesamaan dengan penyerbuan Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar tahun 2004 silam yang juga dilakukan oknum aparat kepolisian. ”Ini ada rantai komando yang langsung menyerang tanpa perintah langsung Kapolda.

Hal ini juga sama dengan memobilisasi masyarakat untuk menyerang mahasiswa. Kami menemukan indikasi ada gerakan yang ingin mengalihkan isu Bank Century ke kasus ini,” pungkasnya saat ditemui di Markas HMI Makassar kemarin. Oleh karena ini,untuk mengawal kasus tersebut, pihaknya sudah menyiapkan sebanyak 20 pengacara yang merupakan kombinasi dari Jakarta dan Makassar.

Kunjungan Fadel

Tadi malam, Menteri Perikanan dan Kelautan Fadel Muhammad datang ke Sekretariat HMI Cabang Makassar, di Jalam Botolempangan yang hancur. Mantan Gubernur Gorontalo itu menyempatkan datang setelah menghadiri acara keluarga di Makassar. Dia menyatakan, akan menyampaikan secara langsung perusakan itu ke Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Besok (hari ini) saya rencanakan menghadap ke Beliau (SBY) untuk menyampaikan kasus ini ke Pak SBY. Saya juga akan melaporkan masalah ini ke Kapolri secara langsung,”kata Fadel. Politisi Partai Golkar itu mengaku prihatin dan kaget saat pertama mendengar melalui media massa kalau Wisma HMI diserang. Pasalnya, tempat tersebut dianggap banyak melahirkan pemimpin bangsa, termasuk mengkader calon-calon pemimpin.

Sehingga apapun alasannya perusakan tersebut tidak dapat ditolerir. Terkait solusi yang harus ditempuh, Fadel yang tak lain alumni HMI, meminta kepada semua pihak agar saling menahan diri tanpa muda terprovokasi. “Saya senang mendengar adikadik HMI mau menggelar aksi damai. Saya harapkan agar sabar dan menggelar aksi-aksi sesuai prosedur yang ada. Kader HMI harus kita jaga karena mereka adalah calon-calon pemimpin.

Saya juga banyak belajar di HMI, tentu kedepan mereka-mereka akan menggantikan kami,” harap Fadel yang didampingi sejumlah Pengurus KAHMI Sulsel. Dalam kunjungannya ke Wisma HMI, sekitar 20 menit, Fadel juga mendengar pernyataan beberapa kader HMI. Seperti mempertanyakan kehadiran oknum anggota Densus 88 Polda Sulselbar, saat aksi unjuk rasa di depan Univeritas 45 Makassar, Rabu (03/03) pekan lalu.

Bagi mahasiswa, kehadiran anggota Densus tersebut, diduga mempunyai misi tertentu.Alasannya, Densus Anti Teror selama ini dikenal sebagai aparat yang fokus membasmi terorisme. “Kami minta kepada Pak Fadel, agar ini dijawab sama Kapolri karena sampai sekarang Kapolda tidak bisa menjawab. Ada apa, sehingga anggota Densus 88 hadir di unjuk rasa kami.

Apakah kampus sarang teroris? Di sinilah awal mula terjadinya masalah,” papar kader HMI Illank Radjab di depan Fadel. Mendengar pernyataan mahasiswa, Fadel berjanji menyampaikan. Apalagi dia juga mengiyakan, ada pihak tertentu yang ingin membenturkan mahasiswa dan polisi. Alasannya, di saat terjadi isu politik nasional, tiba-tiba kasus Makassar menjadi besar. (wahyudi/arif saleh) 

KOMENTAR FACEBOOK TERKINI

Share on Myspace
Secured by Siteground Web Hosting